Sejarah Gedung Juang Sebelum Revolusi Nasional Ampe Wayah Gini

236

Esa Asa Kita News | Cikarang Utara- Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bekasi, Suwartika menginginkan situs sejarah Gedung Tinggi 45 yang terletak di kecamatan Tambun Selatan menjadi pusat kebudayaan bahkan perpustakaan digital.

Suwartika menceritakan usai diskusi di Kantor Sekretariat Esa Asa Kita, sebelum Revolusi Nasional, bangunan ini bernama Landhuis Tamboen atau Gedung Tinggi yang merupakan pusat tanah partikelir milik keluarga Khouw van Tamboen.

Gedung Juang dan stasiun Tambun yang terletak dibelakang gedung, dua-duanya bergaya Art Deco dan merupakan satu kesatuan sejarah tidak terpisahkan.

Mungkin itu sebabnya ada bunker ? Gedung Tinggi Tambun dibangun dengan dua tahap. Tahap pertama pembangunan mulai pada tahun 1906, dan selesai pada tahun 1910. Kemudian tahap ke dua pada tahun 1925.

Khouw Tjeng Kee, Luitenant Cina, seorang tuan tanah yang mempunyai dua saudara laki-laki yaitu Luitenant Khouw Tjeng Tjoan dan Luitenant Khouw Tjeng Po.

Setelah kematian Luitenant Khouw Tjeng Kee kepengurusan baik tanah partikelir maupun Landhuis Tamboen jatuh ke tangan putra sang Luitenant, yaitu Khouw Oen Hoei.

Ia adalah adik O. G. Khouw yang dimakamkan di mausoleum tersohor dan mewah di TPU Petamburan.

Sepupu mereka yang paling terkemuka pada era kolonial adalah Khouw Kim An, Majoor Cina terakhir di Batavia, yang adalah putra paman mereka, Luitenant Khouw Tjeng Tjoan.

Landhuis dan tanah partikelir Tamboen disita pada zaman Jepang dari keluarga Khouw van Tamboen, tahun 1942 saat itu pada tengah penjajahan Jepang.

Pada tahun 1943 tentara Jepang menjadikannya sebagai salah satu pusat kekuatan dalam menjajah Indonesia.

Pada akhir masa penjajahan jepang terjadi sebuah peristiwa besar pembantaian tentara Jepang oleh pejuang kemerdekaan Indonesia.

Dimana tentara Jepang yang pada saat itu menggunakan kereta api dan melintasi wilayah Bekasi yang hendak meninggalkan Indonesia melalui Bandar Udara Kalijati, Subang.

Lalu relnya dibelokan ke rel buntu yang membuat kereta tersebut terperosok. Kemudian tentara Jepang yang sebagian besar tidak bersenjata dikarenakan mereka menyimpan senjatanya di gerbong barang, dibantai oleh pejuangan kemerdekaan Indonesia dan mayatnya dibuang di kali Bekasi.

Masa mempertahankan kemerdekaan Setelah Jepang menarik diri dari Indonesia pada tahun 1945, KNI (Komite Nasonal Indonesia) menjadikan Gedung Tinggi Tambun sebagai kantor Kabupaten Jatinegara.

Tidak hanya menjadi kantor kabupaten, gedung ini juga dijadikan sebagai tempat pertahanan dan pusat komando dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari tentara sekutu yang hendak menjajah Indonesia kembali.

Pada saat perang kemerdekaan melawan Belanda, Gedung Juang 45 yang pada saat itu dikenal dengan nama Gedung Tinggi dijadikan tempat pertahanan oleh para pejuang kemerdekaan yang berpusat di wilayah Tambun dan Cibarusah.

Akibat pertahanan Belanda diwilayah Bekasi sering diserang, maka Belanda sering meninggalkan tempat pertahanannya dan menarik diri untuk memperkuat wilayah pertahanan di Klender.

Kemudian menjadi batas antara kota Bekasi dengan Jakarta Timur. Gedung ini juga menjadi tempat perundingan pertukaran tawanan antara Belanda dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Pejuang kemerdekaan Indonesia dipulangkan oleh Belanda ke wilayah Bekasi dan tentara Belanda dipulangkan ke Batavia melalui Stasiun Tambun yang lintasan relnya tepat berada di belakang gedung ini.

Pada akhir tahun 1947, Belanda melanggar Perjanjian Linggarjati dan melakukan agresi militer pertama, Gedung Tinggi Tambun pun dapat dikuasai oleh Belanda setelah melakukan serangan bertubi-tubi hingga tahun 1949.

Namun tahun 1950 pejuang Indonesia dapat merebut kembali gedung ini setelah berhasil menguasai wilayah Tambun, maka aktivitas pemerintahan kembali dilakukan dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bekasi pertama kali menempati gedung ini, lalu kantor-kantor jabatan lalinnya hingga akhir 1982.

Tahun 1951 gedung ini diisi oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, Batalyon Kian Santang, bahkan lembaga wakil rakyat pun pernah berkantor di gedung ini hingga tahun 1960 diantaranya DPRD Sementara, DPRD Tk. II Bekasi dan DPRD-GR hingga tahun 1960.

Tahun 1982, Bupati Bekasi yang juga seorang budayawan, Abdul Fatah yang menjabat dari tahun 1973 – 1983 membentuk Akademi Pembangunan Desa (APD) di wilayah Tambun dengan menggunakan Gedung Tinggi sebagai kampusnya.

APD pada masanya berubah nama menjadi Universitas Islam 45 Bekasi dan telah memiliki kampus sendiri dekat saluran Irigasi Tarum Barat atau Kali Malang yang berada di Jalan Cut Meutia, kota Bekasi.

Hingga sekarang Gedung Juang 45 Tambun menjadi situs sejarah Kabupaten Bekasi. (Adv)