Diskusi Publik Perdana, Gedung Juang 45 Sebagai Pusat Kebudayaan Bekasi

307

Esa Asa Kita News | Cikarang Utara,- Acara diskusi publik yang bertajuk “Diskusi Publik Mengenai Gedung Juang 45 Sebagai Pusat Kebudayaan Bekasi, Apa dan Bagaimana..??? yang dilaksanakan di rumah diskusi Komunitas #ESA_ASA_KITA. Jum’at (28/02/2020).

Diskusi publik tersebut dengan narasumber : 1. Ahmad Jamroni S.Pd Komisi IV DPRD kabupaten Bekasi, diwakili 2. Suwartika Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bekasi, 3. Komarudin Ibnu Mikam Budayawan dan 4. Endra Kusmawan sejarawan.

Untuk mengetahui dan memahami isi makna sejarah Gedung juang sebagai pusat Budaya Kabupaten Bekasi.

Ketua umum Komunitas #Esa_Asa_Kita Kabupaten Bekasi Ano Susanto ST mengatakan Saya sangat mengucapkan banyak terimakasih kepada narasumber yang sudah datang ke acara diskusi publik perdana ini semoga bisa bermanfaat untuk kita semua. Tentang sejarah Bekasi dan Gedung juang 45.

“Saya berharap acara ini bisa terus berjalan dan bisa bermanfaat untuk kita semua dan masyarakat Bekasi” Ucapnya.

Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bekasi, Suwartika mengatakan proses pembangunan museum dan pusat kebudayaan Gedung Juang dalam dekat ini akan di mulai, program tahun 2020 ini Kedung Juang Sebagai Pusat Kebudayaan, dan sementara kita jadikan sebagai museum Kabupaten Bekasi dan perpustakaan digital.

“Rencana estimasi anggarannya sekitar puluhan miliar,” ucapnya.

Suwartika menjelaskan penataan Gedung Juang Tambun meliputi penambahan ornamen seperti pembuatan taman di depan area gedung dan penataan area parkir. Agar terlihat ciri khas budayanya.

“Kemudian pembuatan batas teritorial dengan bangunan sekitar, pembuatan drop of area, hingga pembuatan Signed Monumental Museum Diorama Bekasi. Sehingga Kedung juang sebagai pusat kebudayaan Bekasi”tutupnya.

Lain halnya Komarudin Ibnu Mikam Narasumber dalam cara Diskusi Publik Perdana tersebut mengatakan Budaya itu tidak bisa dipisakan oleh masyarakat dan kalau bukan orang Bekasi atau orang kampung yang harus melestarikan budaya yang ada di kabupaten Bekasi, siapa lagi.

“Bicara Gedung juang adalah jantungnya Kabupaten Bekasi karena populasi yang begitu padat. Kalau kita lihat Bekasi punya Gedung juang itu Segi tiga yang sangat strategis yaitu 3 penopang diantaranya ujung malang dengan ponpes At-Taqwa, Cibarusah dengan Ponpes Cibogo dan titik sentral ada Kedung Juang.” Jelasnya.

Saya berharap Gedung juang di bangun dan direncakan dengan baik agar museum Gedung juang bisa terlihat sejarah, budaya, cagar alam, pendidikan dan Ciri khas pohon dan jadi sentralisasi Budaya Bekasi, sehingga ketika ada kunjungan dari daerah lain ke Bekasi mereka terkesan dengan Budaya Bekasi nya.

Lain halnya Sejarahwan Bekasi Endra Kusmawan menjelaskan menurut saya bicara sejarah itu indentik Bupati, Konci semuanya ada di Bupati kuntuk mengembangkan sejarah masing-masing daerah salah satunya Bupati Bekasi, sangat Mengapresiasikan Bupati Bekasi langsung di bangun museum Gedung juang.

“Dan Bupati Bekasi juga menggelontorkan anggaran miliaran rupiah untuk pembangunan Gedung juang, dan ini sangat bagus Karena sejarah Bekasi kembali sebagai kota pejuang atau kota patriot, dan bicara golok itu adalah khas dari dulu untuk alat perang masyarakat Bekasi pada waktu itu.” ucap.

Lanjut Endra. Bekasi Sebagai kota patriot adalah proporsi masing-masing sejarah Bekasi seperti budaya Bekasi Batik Bekasi, kesenian tari topeng, kesenian Ujungan, tanjidor Bekasi, tradisi berebut dangdang dan lainya. Dan ini harus kita lestarikan karena budaya dan sejarah Bekasi sebagai Ikon Pemkab Bekasi.

Dengan diskusi publik ini agar masyarakat kabupaten Bekasi bisa mengetahui sejarahnya kabupaten Bekasi, khususnya Kedung juang 45, yang ada di Tambun sebagai peradaban sejarah budaya Bekasi. (Jiung)